
Sehabis mengunjungi kantor Trans 7, kami segera meluncur ke kantor The Jakarta Post. Kunjungan ini merupakan kunjungan SE kami yang terakhir di Jakarta. Sehabis kunjungan ini, kami langsung check out dan berangkat ke Bandung. Pada Kamis, 15 November 2007 itu, kami disambut dengan hangat oleh seorang wartawan senior, Hari Bhaskara, yang juga menjadi trainer bagi para jurnalis muda dan juga oleh seorang pegawai yang mendampingi beliau. Dalam sesi tanya jawab, yang pertama dijelaskan adalah mengenai sejarah berdirinya The Jakarta Post. The Jakarta Post lahir tahun 1983. Koran ini ditujukan bagi para orang asing yang tinggal di Indonesia. Oplah dari koran ini yaitu 30.000 eksemplar yang berisi 24 halaman. Proses produksi koran ini sudah sangat maju dan sudah menggunakan mesin cetak yang canggih dan tidak lagi mencetak huruf dengan menggunakan timah panas seperti yang digunakan oleh para jurnalis di jaman dulu. Karena koran ini berbasis Bahasa Inggris, maka mereka merekrut berita dari berbagai kantor berita asing seperti Reuters (Inggris), Kyodo (Jepang), dll. Kami juga dijelaskan cara mencari berita yang diawali dengan jurnalis mencari berita, mengedit, membuat layout sampai dengan pencetakannya. Untuk karyawan yang bekerja di The Jakarta Post minimal harus memiliki sertfikat TOEFL 550. jumlah pekerja di koran ini hanya 45 orang. Dari ke 45 orang tersebut, ada beberapa diantaranya yang merupakan watawan asing yang dijadikan sebagai konsultan bahasa dan konsultan penulisan berita agar berita yang disajikan dapat dinilai dari berbagai sudut pandang khususnya dari cara pandang orang asing yang akan membaca berita tersebut. Koran The Jakarta Post memiliki falsafah yang sangat unik yaitu “Membentuk Masyarakat Demokratis Yang Percaya Pada Masyarakat Pluralis”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar